Rabu, 08 September 2010

Gitar Klasik di Indonesia

Dapat dikatakan bahwa tahun 70-an merupakan titik tolak
pengembangan pendidikan gitar klasik di Indonesia. Gejala ini ditandai
dengan (1) meningkatnya pelayanan minat masyarakat dalam
mempelajari gitar melalui lembaga-lembaga kursus musik swasta yang
disponsori perusahaan-perusahaan Jepang; (2) datangnya bantuan resmi
pemerintah Belanda dalam membina calon-calon guru gitar melalui
program intensif yang dikelola pemerintah di kota-kota besar seperti
Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakara, dan Surabaya; dan (3)
dibukanya bidang studi praktek gitar pada jenjang perguruan tinggi.
Hingga pertengahan tahun 70-an sudah terdapat banyak sekolah
musik swasta yang menyediakan kursus gitar, baik di kota-kota besar
maupun kecil di wilayah Indonesia bagian Barat. Berbagai macam teknik
dan metode praktis ditawarkan dengan tujuan dasar yang sama yaitu
memperkenalkan suatu cara bermain gitar yang lebih dari sekedar
memainkan akor-akor pengiring nyanyian. Teknik bermain gitar klasik
diperkenalkan melaui pendekatan-pendekatan yang mudah dan
menyenangkan dengan melibatkan dasar-dasar umum permainan gitar.
Gaya pengajaran kelas yang santai dan sistem ujian yang menarik dari
mtode-metode tersebut telah menghasilkan siswa-siswa baru yang dapat
menguasai ketrampilan dasar bermain gitar secara komprehensif dalam
waktu yang relatif singkat. Sayangnya kurikulum yang ditawarkan kepada
siswa masih terbatas hingga tingkat ketrampilan menengah.
Berbeda dengan kursus-kursus swasta lainnya, Yayasan
Pendidikan Musik (YPM) di Manggarai, Jakarta, yang saat itu diyakini
sebagai sekolah musik termaju di Indonesia, menerapkan suatu metode
lain. Sekolah ini mengarahan agar siswa dapat mengenal musik secara
utuh melalui pengajaran teori-teori musik secara terpisah dari tutorial
individual praktikum instrumen musik. Kelas gitar pada lembaga ini sudah
lama ada sebelum tahun 70-an di bawah koordinasi gitaris Adis Sugata.
Walaupun sistem pendidikan musiknya secara umum cukup baik namun
dalam pengajaran praktek gitar mereka masih menggunakan metode
lama seperti misalnya, Carcassi dan Carulli. Pendidikan gitar di Indonesia
mengalami perubahan yang signifikan sejak kehadiran sebuah kelompok
musik kamar dari Belanda, Dick Visser Guitar Trio, pada tahun 1977.
Suatu hal yang menguntungkan bahwa Dick Visser, pimpinan trio
tersebut, adalah seorang pejabat dinas kebudayaan di Belanda pada
masa itu. Di samping spesialisasinya sebagai komponis gitar, ia juga
seorang pendidik gitar senior, profesor dan dekan di Konservatorium
Amsterdam, Belanda. Melalui beliaulah telah terjadi suatu jalinan kerja
sama di antara pemerintah Belanda dan Indonesia untuk
mengembangkan pendidikan gitar klasik di tanah air.
Professor Dick Visser telah menyumbangkan suatu kontribusi
yang besar terhadap perkembangan gitar klasik di Belanda. Kontribusi
terpentingnya ialah penemuan teknik baru yang merupakan sintesis dari
berbagai teknik bermain gitar terdahulu terutama dari Tarrega dan Pujol
yang dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan teknik Segovia
pada paruh pertama abad ke-20. Penemuannya tersebut telah
dituangkan ke dalam suatu paket terbitan yang lengkap dari seluruh
teknik permainan gitar klasik dan sejumlah etude serta kumpulan 24
etude yang ditulis pada seluruh tanda kunci mayor dan minor. Ia bahkan
telah menerapkan ide tekniknya ke dalam seluruh komposisi
kontemporernya dan juga edisi dan transkripsi beberapa karya-karya
standar secara konsisten.
Perhatian Dick Visser sangat besar terhadap perkembangan gitar
di Indonesia yang dinamis. Beliau sangat berniat untuk membantu
perkembangan pendidikan musik dan mensosialisasikan metodenya di
Indonesia. Dalam waktu yang tidak lama maka pemerintah Belanda
mengirim seorang pedagog gitar berkualifikasi ganda di bidang penyajian
(performance) dan pendidikan, Yos Bredie. Guru gitar tersebut adalah
lulusan Konservatorium Amsterdam, salah seorang murid terbaik Dick
Visser. Beliau dikirim untuk memberikan pelatihan intensif selama satu
setengah tahun pada para guru dan calon guru gitar di kota-kota besar
pulau Jawa dan Bali. Penataran tersebut diikuti oleh guru-guru gitar dan
peminat-peminat lain dalam jumlah terbatas yang diterima melalui audisi
atau rekomendasi sekolah musik. Beruntung bahwa penulis yang saat itu
masih duduk di bangku SMU dan berstatus sebagai murid gitar, bersama
dengan gitaris-gitaris muda lain yang di antaranya ialah Iwan Irawan,
Royke Koapaha dan almarhum Ferry Tambunan dari Bandung, telah
diterima sebagai peserta dalam pelatihan tersebut.
Di samping mempelajari dan mempraktekan teknik Dick Visser
yang lebih mengutamakan pengembangan tangan kiri, peserta pelatihan
menerima pelajaran-pelajaran teori penunjang lainnya. Pelajaranpelajaran
tersebut di antaranya ialah ilmu sejarah musik, kontrapung, dan
harmoni yang diarahkan kepada komposisi dan aransemen untuk gitar.
Pelajaran pelengkap lain ialah kelas musik kamar yang menitik beratkan
ensembel-ensembel kecil seperti duet, trio, dan kwartet gitar.
Sebagai tindak lanjut dari pelatihan bantuan Belanda yang
diselenggarakan oleh pemerintah pada awal tahun 1980, departemen
gitar YPM membuka program persiapan konservatori yang diikuti sepuluh
siswa dari Bandung dan Jakarta (termasuk penulis). Satu semester
sebelumnya, pada tahun 1979 Akademi Musik Indonesia (AMI) di
Yogyakarta yang berada di bawah pengelolaan pemerintah, telah lebih
dahulu membuka departemen gitar untuk program yang lebih tinggi dari
diploma (setingkat D3) yaitu gelar Seniman setingkat Sarjana (setingkat
S1). Secara operasional pengajaran praktek gitar dan subjek-subjek
terkait pada kedua program tindak lanjut yang dikelola oleh swasta (YPM)
dan pemerintah (AMI) tersebut dilaksanakan oleh Yos Bredie karena saat
itu belum ada dosen gitar yang dianggap memenuhi persyaratan
akademis.
Sayang bahwa program persiapan konservatori di YPM hanya
berlangsung selama dua semester saja. Untuk mengantisipasi
kesinambungan belajar maka sambil melengkapi studi di YPM pada
semester kedua penulis mengambil studi komposisi di Lembaga
Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Setelah berakhirnya masa studi di
YPM (akhir tahun 1980), penulis pindah ke Jurusan Gitar LPKJ selama
satu semester dan pada semester berikutnya (pertengahan tahun 1981)
melanjutkan ke program gelar di AMI Yogyakarta.
Beberapa tahun sebelum program gitar di AMI dibuka, aktivitas
pendidikan tinggi untuk gitar pada telah dilaksanakan di LPKJ. Sistem
pendidikannya kurang lebih serupa dengan YPM namun lebih lengkap
sebagai suatu pendidikan di sekolah tinggi. Jenjang pendidikan gitar di
lembaga ini dikelompokkan ke dalam dua tingkat yaitu Tahap Studi Dasar
dan Tahap Studi Akhir. Di bawah asuhan Reiner Wildt, seorang dosen
warga Indonesia berdarah Jerman, teknik yang diterapkan pada para
mahasiswa gitar pada dasarnya mengacu secara fanatik kepada teknik
Segovia dengan perhatian utama pada pengembangan teknik tangan
294
kanan. Suatu kelebihan yang ada pada sistem pendidikn gitar di lembaga
ini ialah perluasan repertoar yang tidak hanya meliputi karya-karya solo
dan ensembel gitar tapi juga musik kamar yang melibatkan alat-alat
musik lain seperti kombinasi gitar dengan kwartet gesek atau alat-alat
musik orkestra lainnya.
Sejajar dengan program Sarjana (S1), program pendidikan musik
di AMI memakan waktu minimal 9 semester. Pogram studi yang
diterapkan pada masa itu ialah: Musik Sekolah (MS), Sastra Musik (SM)
dan Teori Komposisi (TK). Kecuali program MS dan TK yang
mempersyaratkan Skripsi untuk melengkapi studinya, para mahasiswa
SM yang tergolong paling kecil populasinya, dituntut untuk melakukan
resital sebagai pengganti skripsi. Karena tertarik dengan pengembangan
ketrampilan bermain gitar maka penulis memilih program SM.
Posisi pelajaran gitar pada saat itu ialah sebagai instrumen mayor
disamping dua instrumen wajib lainnya yaitu piano komplementer dan
instrumen minor pilihan. Mata kuliah terkait lain seperti sejarah gitar,
konsruksi gitar dan kelas repertoar gitar diintegrasikan ke dalam mata
kuliah Praktek Individual Instrumen Mayor (PIIM). Sementara itu
ensembel gitar mendapat wadah tersendiri sebagai alternatif dari mata
kuliah Orkes dan Koor.
Perkembangan dunia pergitaran Indonesia yang dinamis pada
tahun 70-an merupakan merupakan masa awal dan titik tolak
perkembangan pendidikan gitar di Indonesia untuk dekade-dekade
berikutya. Salah satu hikmah yang bisa dirasakan hingga paruh pertama
tahun 1980-an ialah bahwa dibukanya bidang studi praktek gitar pada
jenjang perguruan tinggi, dalam hal ini AMI, telah mendapat tanggapan
yang positif dari masyarakat dalam skala nasional. Hal tersebut tebukti
dengan berduyun-duyunnya para lulusan SMA dari berbagai daerah di
Indonesia untuk mengikuti studi gitar di AMI sebagai alternatif dari
perguruan tinggi umum. Keadaan tersebut terus bertahan hingga AMI
berintergrasi ke dalam Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun
1984. Sejak saat itu calon mahasiswa gitar di Jurusan Musik, ISI
Yogyakarta senantiasa menempati jumlah terbanyak dibandingkan
dengan instumen-instrumen lain.
Dari latar belakang historis tersebut dapat disebutkan bahwa
Seksi Gitar di Jurusan Musik, FSP ISI Yogyakarta telah berdiri sejak
beberapa tahun sebelum AMI berintegrasi ke ISI Yogyakarta, pada tahun
1984. Sebelum tahun 1984 Seksi Gitar dikelola langsung oleh dosen gitar
pertama, Jos Bredie, dosen tamu dari Belanda. Keberhasilan
kepemimpinannya sangat didukung tidak hanya oleh cita-cita, idealisme
dan motivasi, tapi juga oleh kelengkapan fasilitas pendukungnya berupa
buku-buku dan rekaman Piringan Hitam gitar klasik.
Sepeninggal Jos Bredie, kepemimpinan Seksi Gitar dilakukan
secara bergilir namun tanpa batasan ketentuan waktu hingga akhir
semester genap 2004/2005 (Juni 2005). Selama itu dapat dikatakan
bahwa Seksi Gitar telah mengalami stagnansi, yaitu hanya melakukan
rutinitas yang telah mentradisi sejak awal tanpa evaluasi dan
pengembangan. Sementara itu dunia pergitaran klasik di masyarakat
tetap bergerak tanpa kompromi. Sehubungan dengan keadaan tersebut
Seksi Gitar mempertimbangkan bahwa selama ini kepemimpinan dalam
Seksi Gitar tidak dilakukan melalui suatu musyawarah melainkan
berdasarkan azas insiatif individual dan oleh karenanya memerlukan
sistem manajerial yang demokratif, rapi dan teratur. Pertimbangan lain
ialah agar Seksi Gitar dapat mencapai produksi dan daya saing yang
maksimal, dan di samping itu juga agar PBM untuk bidang studi gitar
dapat berlangsung dengan baik dan lancar sesuai dan sejalan dengan
pengembangan keempat Minat Utama di Jurusan Musik.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut Seksi Gitar
telah melakukan langkah kongkrit guna mencapai kualitas pendidikan
gitar yang lebih baik dengan memperbaharui susunan kepengurusannya.
Langkah yang telah diambil ialah pemilihan ketua baru untuk periode dua
tahun ke depan. Sehubungan dengan itu rapat pemilihan ketua Seksi
Gitar telah dilakukan pada hari Senin, tanggal 18 Juli 2005, pukul 10.00 –
12.00 WIB bertempat di ruang Ketua Jurusan Musik yang dihadiri oleh
80% anggota inti Seksi Gitar yang terdiri dari para pengajar mata kuliah
Instrumen Mayor Gitar. Dengan tersusunnya kepengurusan yang baru
maka diharapkan Seksi Gitar akan berkembang kepada tingkat yang
lebih profesional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar