Minggu, 06 Juni 2010

Alat Dan Bahan Dalam Membuat Batik

1. Peralatan Membatik
a. Canting
Canting merupakan alat utama yang dipergunakan untuk membatik.
Penggunaan canting adalah untuk menorehkan (melukiskan) cairan malam
agar terbentuk motif batik. Canting memiliki beberapa bagian yaitu:
�� Gagang
Gagang merupakan bagian canting yang berfungsi sebagai pegangan
pembatik pada saat menggunakan canting untuk mengambil cairan
malam dari wajan, dan menorehkan (melukiskan) cairan malam pada
kain. Gagang biasanya terbuat dari kayu ringan.
�� Nyamplung (tangki kecil)
Nyamplung merupakan bgian canting yang berfungsi sebagai wadah
cairan malam pada saat proses membatik. Nyamplung terbuat dari
tembaga.�� Cucuk atau carat
Cucuk merupakan bagian ujung canting dan memiliki lubang sebagai
saluran cairan malam dari nyamplung. Ukuran dan jumlah cucuk can
beragam tergantung jenisnya. Cucuk tersebut terbuat dari tembaga.
Kondisi cucuk harus senantiasa berlubang, kalau tersumbat oleh cairan
malam yang sudah mengeras, cucuk dapat dilubangi lagi dengan cara
mencelupkan di cairan panas malam, sumbatan keras tersebut akan turut
mencair kembali. Sedangkan bila sumbatan belum mengeras maka
pelubangannya dapat dipakai dengan bulu sapu lantai.
b. Kuas
Pada umumnya kuas dipergunakan untuk melukis, dalam proses
membatik kuas juga dapat dipergunakan untuk Nonyoki yaitu mengisi bidang
motif luas dengan malam secara penuh. Kuas dapat juga untuk menggores
332
secara ekspresif dalam mewarnai kain. Anda dapat mempergunakan kuas cat
minyak, kuas cat air, atau bahkan kuas cat tembok untuk bidang sangat luas.
c. Kompor Minyak Tanah
Kompor minyak tanah dipergunakan untuk memanasi malam agar cair.
Pilihlah kompor yang ukurannya kecil saja, tidak perlu yang besar. Pembatik
tradisional biasanya menggunakan anglo atau keren. Anglo merupakan arang
katu sebagai bahan bakar. Kelemahan anglo/keren adalah asap yang
ditimbulkannya berbeda dengan kompor yang tidak seberapa menimbulkan
asap.
Pilihlah kompor yang ukuran kecil saja, dengan diameter sekitar 13 cm,
sesuai dengan besaran wajan yang digunakan. Pemanasan malam tidak
membutuhkan api yang cukup besar seperti kalau kita memasak di dapur.
d. Wajan
Wadah untuk mencairkan malam menggunakan wajan, terbuat dari
bahan logam. Pilihlah wajan yang memiliki tangkai lengkap kanan dan kiri
agar memudahkan kita mengangkatnya dari dan ke atas kompor.
Wajan yang dipakai tidak perlu berukuran besar, wajan dengan
diameter kurang lebih 15 cm sudah cukup memadai untuk tempat pencairan
malam.
e. Gawangan
Pada waktu membatik kain panjang, tidak mungkin tangan kiri pembatik
memegangi kain tersebut. Untuk itu membutuhkan media untuk
membentangkan kain tersebut, yang disebut gawangan. Disebut demikian
karena bentuknya seperti gawang sepakbola, terbuat dari kayu, agar ringan
dan mudah diangkat dan dipindahkan.
Peralatan tersebut di atas sudah cukup memadai untuk kegiatan
membatik Anda. Memang di masa lalu ada beberapa peralatan pendukung
lainnya seperti saringan, kursi kecil (dingklik) dan lipas/tepas. Tepas
diperlukan untuk membantuk menyalakan api arang kayu di anglo/keren.
Sekarang ini dengan adanya kompor, maka tepas tidak diperlukan dalam
kegiatan membatik.
f. Nampan
Nampan plastik diperlukan untuk tempat cairan campuran pewarna dan
mencelup kain dalam proses pewarnaan. Pilihlah ukuran nampan yang
sesuai dengan ukuran kain yang dibatik agar kain benar-benar tercelup
semuanya.
g. Panci
Panci aluminium diperlukan untuk memanaskan air di atas kompor atau
tungku dan untuk melorot kain setelah diwarnai agar malam bisa bersih.
Pilihlah ukuran panci sesuai dengan ukuran kain yang dibatik.
333
h. Sarung tangan
Sarung tangan diperlukan sebagai pelindung tangan pada saat
mencampur bahan pewarna dan mencelupkan kain ke dalam cairan pewarna.
Selama penyiapan warna dan pewarnaan kain, pergunakanlah selalu sarung
tangan karena bahan pewarna batik terbuat dari bahan kimia yang berbahaya
bagi kesehatan kulit dan pernafasan, kecuali pewarna alami (natural).
i. Sendok & Mangkuk
Sendok makan dibutuhkan untuk menakar zat pewarna dan mangkuk
plastik untuk mencampur zat pewarna tersebut sebelum dimasukkan ke
dalam air. Selain itu juga diperlukan gelas untuk menakar air.2. Bahan Batik
a. Kain
Salah satu bahan yang paling pokok dalam membatik adalah kain, sebg
media tempat motif akan dilukiskan. Untuk membatik biasanya kain yang
biasa digunakan adalah jenis kain katun seperti kain Voilissma, Primis,
Primissima, mori biru, Philip, berkolyn, santung, blacu, dan ada juga yang
mempergunakan kain sutera alam. Media kain yang harus diperhatikan
adalah usahakan agar kain tersebut tidak mengandung kanji atau kotoran
lainnya, karena hal ini akan mengganggu proses penyerapan malam ataupun
warna. Pengolahan kain ini lebih banyak dikenal dengan istilah “ngloyor”.
Bahan untuk pengolahan kain biasanya minyak jarak atau larutan asam.
Pengolahan kain menggunakan minyak jarak, langkah yang harus dikerjakan
yaitu merendam kain dalam panci dan direbus dengan memasukkan minyak
jarak ke dalam rebusan kain tersebut. Apabila sudah mendidih, diambil dan
direndam dalam air dingin sambil diremas-remas. Air dingin untuk merendam
kain ini bisa ditambahkan sabun atau deterjen.
Pengolahan kain dengan larutan asam biasanya dilakukan satu hari,
tetapi perlu diperhatikan bahwa larutan asam yang terlalu banyak akan
merusak kain. Pengolahan kain dengan minyak jarak dan larutan asam tidak
cocok digunakan untuk kain sutera, karena kain sutera yang berbahan sangat
lembut memerlukan perlakuan khusus. Biasanya pengolahan kain sutera
dengan sabun yang khusus untuk serat halus dan tidak diperas berlebihan
atau apabila sulit untuk mencari sabun khusus untuk kain sutera bisa
menggunakan shampo untuk rambut, tetapi gunakan sedikit saja dan cucilah
dengan perlahan. Sebagai tambahan saja, bahwa kain sutera sangat cocok
apabila diwarna dengan menggunakan pewarna alam.
Selanjutnya setelah kain diangkat dari perendaman, kemudian kain
dilipat dan dikemplong (“ngemplong”) yaitu dengan cara memukul-mukul kain
tersebut dengan menggunakan pemukul kayu. Tujuannya agar serat kain
menjadi kendor dan lemas. Setelah dikemplong kain dijemur. Setelah kering
kain bisa diseterika dan siap untuk dipola.
Saat ini banyak tersedia kain yang berkualitas bagus, tetapi tentu saja
kain tersebut masih mengandung kanji. Tetapi terkadang saat ini banyak
334
orang yang hanya merendam kain dalam air sampai beberapa kali tanpa
menggunakan minyak jarak atau larutan asam. Cara ini bisa juga dilakukan
pada kain yang sedikit mengandung kanji. Setelah kain diproses “ngloyor”
dan “ngemplong”, kain tersebut diukur sesuai dengan bentuk dan ukuran
yang diinginkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar